Rabu, 19 Oktober 2011

Tradisi Ngijing Dalam Kacamata Budaya Jawa


Kebudayaan Jawa merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional yang memiliki fundamental yang sangat kuat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Jawa dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal ini karena suku Jawa merupakan suku/etnis yang terbesar di Indonesia, sehingga budaya Jawa dalam perkembangannya mempunyai daya dukung yang lebih tinggi, ini merupakan potensi yang sangat menggembirakan dalam upaya pengembangan budaya dan pemikiran Jawa. Daya dukung yang demikian besar ini ternyata sangat berpengaruh dalam berbagai aspek kenegaraan dan kebudayaan berkaitan dengan kejawaan lebih mendominasi dan mewarnai, dibandingkan suku-suku yang lain.
Kebudayaan Jawa dapat dikatakan sebagai salah satu tiang kebudayaan nasional. Disadari atau tidak, sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat, banyak didominasi oleh nilai moral dalam kebudayaan Jawa, sehingga usaha pelestarian budaya Jawa dilakukan melalui berbagai jalan agar tidak ditinggalkan oleh masyarakat Jawa sendiri.
Dalam sejarahnya, perkembangan kebudayaan masyarakat Jawa mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Oleh karena itu corak dan bentuknya diwarnai oleh berbagai unsur budaya yang bermacam-macam. Setiap masyarakat Jawa memiliki kebudayaan yang berbeda. Hal ini dikarenakan oleh kondisi sosial budaya masyarakat antara yang satu dengan yang lain berbeda. Kebudayaan sebagai cara merasa dan cara berpikir yang  menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan kelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu. Salah satu unsur budaya Jawa yang menonjol adalah adat istiadat atau tradisi kejawen.
Hasil pemikiran, cipta dan karya manusia merupakan kebudayaan yang berkembang pada masyarakat, pikiran dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia secara terus menerus pada akhirnya menjadi sebuah tradisi. Tradisi merupakan   proses situasi kemasyarakatan yang di dalamnya unsur-unsur dari warisan kebudayaan dan dipindahkan dari generasi ke generasi. Di kalangan masyarakat Jawa terdapat kepercayaan adanya hubungan yang sangat baik antara manusia dan yang gaib. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai ritual sakral. Geertz menuturkan bahwa hubungan manusia dengan yang gaib dalam dimensi kehidupan termasuk cabang kebudayaan.
Seperti yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa yakni di dusun Mudal Cangkringan Sleman Yogyakarta, mereka mengadakan upacara tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewu. Tradisi ini merupakan implementasi kepercayaan mereka akan adanya hubungan yang baik antara manusia dengan yang gaib. Tradisi ini telah lama ada bahkan sampai sekarang masih tetap dilakukan. Tradisi Ngijing merupakan suatu jenis kebudayaan lokal tradisional orang Jawa. Dengan demikian tradisi Ngijing dapat diklasifikasikan sebagai kebudayaan Jawa.
Ngijing berasal dari kata kijing (nisan), sedangkan ngijing berarti pemasangan kijing (nisan). Tradisi Ngijing pada upacara Selametan Nyewu merupakan salah satu bentuk upacara tradisi yang diwariskan  leluhur. Upacara itu dilaksanakan di pemakaman setempat atau yang lebih dikenal dengan nama pasareyan.
Pelaksanaan tradisi Ngijing ini merupakan simbol ketaatan kepada tradisi leluhur sebagai penerus tradisi yang pernah ada. Di samping itu, tradisi Ngijing  berfungsi menjaga pandangan masyarakat tentang status sosial seseorang. Orang yang tidak melakukan tradisi tersebut, walaupun tidak disingkirkan atau di asingkan, tetapi akan mendapat kesan negatif dari anggota masyarakat lainnya. Kesan negatif yang paling sering terjadi adalah diasingkan dalam pergaulan sehari-hari, karena dianggap tidak menghormati leluhur.
Sebelum prosesi Ngijing dilaksanakan  ada tiga tahapan yang dirangkai dalam tiga malam. Tahap pertama yaitu tahlilan yang dilakukan pada malam pertama dari tiga malam Tahap kedua yaitu malam kedua sebelum prosesi mengadakan yasinan. Tahap ketiga yaitu satu malam sebelum prosesi, orang yang berhajat mengadakan khataman al-Qur'an. Biasanya, tradisi Ngijing ini dilakukan pada hari keempat dengan bantuan warga setempat. Perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan dibawa termasuk nampan berisi sesajen.
Setelah keluarga yang punya hajat dan modin (ulama kampung) memulai memasuki area pemakaman. Tradisi ini diawali dengan do’a oleh modin dengan posisi di selatan makam, selanjutnya modin memulai pembongkaran makam dengan mencangkul tanah makam dengan dibantu beberapa warga secara bergantian. Penggalian makam terus dilakukan sampai terlihat pasak. Pasak yang terlihat tadi, kemudian diambil satu persatu dengan hati-hati dimulai dari pasak yang menutupi tulang kaki almarhum. Setelah semua pasak telah diangkat maka nampaklah tulang-belulang yang telah berusia seribu hari. Kemudian modin berdiri disebelah timur makam dan menghadap Qiblat lalu membacakan doa-doa keselamatan bagi si almarhum di akhirat dan bagi keluarga yang ditinggalkan didunia.
Setelah doa selesai dibacakan, mereka mulai menutupi liang makam dengan tanah dan meletakkan kijing di atas altar. Kemudian modin meminta orang yang paling tua dari keluarga yang melaksanakan tradisi Ngijing untuk meletakkan dua stupa kijing yang terletak di atas kedua ujung kijing. Pemasangan stupa kijing dimulai dari stupa kepala dengan di sertai kalimat doa berbahasa Jawa sesuai keinginan orang tersebut. Inti dari doa tersebut berisi tentang permohonan keselamatan almarhum di akhirat dan mohon akan bimbingannya di akhirat kelak. Selanjutnya, stupa kaki di pasang, maka lengkaplah proses pelaksanaan tradisi ngijing pada upacara selamatan nyewu.
Unsur-unsur animisme-dinamisme hingga kini pengaruhnya masih mewarnai sendi-sendi kehidupan mayarakat, terutama dalam ritualitas kebudayaan. Hal ini bisa diamati pada seremonial-seremonial budaya dalam masyarakat masih menunjukkan akan kepercayaannya terhadap makhluk supranatural. Meskipun demikian pada kenyataannya tradisi Ngijing tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Islam.
Kentalnya warna animisme-dinamisme dalam Tradisi Ngijing tidaklah kemudian dimaknai sebagai bentuk sinkretis, melainkan suatu bentuk dari kemampuan adaptasi kultural yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang melembaga dalam ritualitas kebudayaan masyarakat Jawa. ®


Bahan Bacaan                       
A. Syahri, Implementasi Agama Islam Pada Masyarakat,  Jakarta: Depag, 1985.
Asmoro Ahmadi, "Mengungkapkan Pemikiran Jawa", Jurnal Teologi, No.  44, Februari, Semarang: IAIN Walisongo, 1998.
Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, Terj. Aswab Mahasin, Jakarta: Pustaka Jawa, 1983.
DR. Musa Asy’arie, Filsafat Islam tentang kebudayaan, Yogyakarta: Lesfi, 1999.
Frans Magnis Suseno, Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Orang Jawa, Jakarta: Gramedia, 1999.
Karkono Kamajaya Partokusumo, Kebudayaan Jawa; Perpaduannya  dengan Islam, Yogyakarta, Ikatan Penerbit Indonesia, 1995.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
_____________, Manusia dan kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Djembatan, 1980.
Marbangun Hardjowirogo, Manusia Jawa, Jakarta, Inti Idayu Press, 1986.
Thomas Dawes Elliot, dalam Henry Pratt Fair Child (ed.), Dictionary of Sociology and Related Sciences, New Jersey: Little Field, Adam & Co., 1975.

1 komentar:

"TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA"