KOMISIONER KPU KALIMANTAN UTARA

Foto bersama Komisioner KPU dan sekretaris Kalimantan Utara 2015-2019

I'M JOURNALIST, NOT YOUR ENEMY

Menjadi seorang jurnalis Televisi adalah pengalaman yang sangat luar biasa, terimakasih Publik Khatulistiwa Televisi (PKTV) dan IJTI Kaltim

MENDIDIK ADALAH KEWAJIBAN

Sebuah perjalanan dan kehormatan dapat mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar dan waka kesiswaan di SMK Manahijul Huda Pati

LIPUTAN ADALAH HOBI

Memberikan sebuah fakta kepada masyarakat melalui layar kaca adalah sebuah kepuasan batin tersendiri

BERKIBAR PANJI GERAKAN

Pergerakan merupakan gerakan dari titik yang tidak baik menuju baik, dari yang baik menuju yang lebih baik...tidak stagnan

"TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA, SEMOGA BERMANFAAT...!! SALAM"

Selasa, 18 Oktober 2011

Baron Sekeber dan Ancaman Kekuasaan


Baron Sekeber, nama ini tentunya tidak asing bagi mereka yang suka menikmati kesenian tradisional ketoprak. Narasi tentang Baron Sekeber sering dijadikan lakon dalam pertunjukan ketoprak didaerah maupun siaran radio yang dulu sering diputar di Radio Republik Indonesia (RRI). Bahkan ketoprak humornya pelawak Timbul pernah mengangkat lakon Baron Sekeber untuk dipentaskan, dengan menampilkan seorang bule yang berperan menjadi lakon-nya. Menarik memang berusaha cari tahu tentang legenda daerah kelahiran sendiri. Dari rasa penasaran, akupun mencari narasi lain tentang Baron Sekeber, kubaca salah satu tumpukan buku yang ada disampingku, buku terbitan UNNES PRESS tahun 2009 berjudul “Kisah-kisah Lama dari Pati” dengan penulis Praba Hamsara dan Eva Banowati. Tulisan tentang Baron Sekeber ada didalamnya.

Dari legenda rakyat Pati yang sumber referensinya diambil dari Serat Babat Pati, Baron Sekeber merupakan seorang bangsawan dari negeri Belanda. Ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara. Kakak yang pertama bernama Baron Sukmul, seorang raja di negeri Belanda tepatnya di kota Amsterdam. Yang kedua bernama Baron Sekeder menjadi raja di Spanyol membawahi Inggris. Kakak ketiga bernama Baron Setember, menjadi patih Baron Sekeder. Sedangkan Baron Sekeber menolak jabatan politis pemerintahan tawaran saudaranya. Ia mempunyai ambisi untuk menginvasi kerajaan yang berada di pulau Jawa, bernama Mataram, yang saat itu dipimpin oleh rezim Panembahan Senopati. 

Dalam upaya penaklukan Mataram pada abad ke -16, yang dilakukan adalah dengan perang tanding adu kesaktian antara Baron Sekeber dan Panembahan Senopati. Namun dalam prosesnya, Baron melarikan diri secara sepihak menuju ke arah utara, kearah gunung Muria di Kudus, tepatnya di atas bukit Patiayam. Ia bermaksud untuk bertapa di dalam sumur yang berada didepan mulut Gua bukit tersebut. Dari ketinggian, keindahan kota Pati telah menggoda Baron dari pertapan-nya dan kemudian ia memutuskan untuk turun gunung menuju kota tersebut. 

Dalam perjalananya di desa Kemiri, didapati seorang gadis kiranya lebih mendekati peranakan jawa-pati, kulit coklat sawo matang, rambut panjang dan kedua mata indah, membuat Baron berasumsi demikian. “Rara Suli” demikian nama panggilannya. Gadis tersebut adalah anak dari seorang janda di desa Kemiri - Pati. Dari proses perkenalan, akrab, berkencan dan selanjutnya tidur bareng di rumah sang janda hingga berhari-hari, bermalam-malam sampai akhirnya Rara Suli hamil diluar nikah. Dari kehamilannnya ini lahir anak kembar laki-laki yang diberi nama Danurwenda dan Sirwenda. Masyarakat yang geram atas kehadiran anak kembar dari seorang gadis tanpa suami, akhirnya melaporkan kepada penguasa Pati, Raden Adipati Jayakusuma. 

Atas desakan masyarakat, akhirnya sang Adipati Pati memboyong ibu dan kedua bayinya ke istana. Dalam usianya yang baru berumur tiga tahun, kedua anak tersebut sudah menunjukkan bakat dan kemampuan yang luar biasa dalam memanah dan mampu masuk ke dalam tempayan kecil milik salah seorang ulama setempat. Atas nasihat dari guru Raden Adipati Jayakusuma, kedua anak tersebut sebaiknya disirnakan (dibunuh) sebab akan membahayakan kekuasaan sang adipati di kemudian hari. Akhirnya, kedua anak tersebut tewas ditangan sang Adipati.

Mendengar kematian kedua anaknya yang dibunuh oleh Adipati Pati, Baron marah besar dan duel maut tak terhindarkan. Mereka saling adu ketrampilan dan kesaktian. Selanjutnya dalam adu kesaktian dengan cara menyelam ke laut, Baron Sekeber kalah. Kata seorang simbah desaku, konon kekalahan Baron dikarenakan waktu menyelam Jayakusuma bersembunyi di  sebuah gua. Konsekuensinya sesuai dengan perjanjian, barang siapa yang kalah harus bersedia diperbudak oleh yang menang. Dan akhirnya Baron Sekeber menjadi budak Jayakusuma. 

Inilah salah satu legenda dari Pati, sebuah kota kecil di pulau jawa bagian utara, salah satu kota yang terlintasi proyek pembangunan jalan Daendels pada era kolonial dan sekarang dikenal dengan nama “jalur pantura”. 

Legenda memang bukan fakta sejarah, sebuah karya sastra tendensius, subyektif, yang mengandung maksud-maksud tertentu semata dan bersifat keperpihakan. Tapi bukan berarti sebuah legenda tidak berguna sama sekali, ada pesan-pesan moral yang hendak disampaikan oleh penuturnya sebagai penuntun dalam menjalankan disetiap aspek kehidupan. Seperti halnya legenda Baron Sekeber dari Pati diatas, dari beberapa pesan moral yang ada, ada dua catatan yang menarik, Pertama, apabila ada orang yang dapat membahayakan dan mengancam eksistensi kekuasaan seseorang maka orang tersebut sebaiknya dimusnahkan seperti yang dialami oleh kedua anak Baron Sekeber. Pembunuhan ini dilakukan oleh penguasa Senopati Jayakusuma yang bertujuan untuk antisipasi dalam melanggengakan status quo. Dalam ilmu politik, uraian tentang tindakan atau cara seseorang yang menghalalkan segala cara guna merebut dan mempertahankan sebuah kekuasaan dapat dijumpai dalam buku Il Principle (Sang Pangeran). Buku yang menjadi maestro dan terkenal ini merupakan karangan seorang filsuf Italia bernama Niccolo Machiavelli. Konon buku ini menjadi kitab suci para pemimpin negara diktator di dunia. Kedua, sebuah kekalahan akan membawa konsekuensi dengan ter-eksploitasi atas dirinya. Inilah yang dialami Baron Sekeber, menjadi budak sang penguasa. Sebuah pilihan pahit dalam kehidupan. Atau mungkin lebih tepatnya tidak ada pilihan lain selain menjadi budak karena kekalahannya. Sebuah ongkos sosial yang mahal...!!!! 

Chairullizza
Pati, 15 September 2010 [03.00 pm]

Antara “Kita” dan Yokomato


Bukan aku, kamu atau dia. Tapi lebih tepatnya “kita”, sekumpulan anak kos yang lagi belajar tentang kehidupan di kota Gudeg 2009 awal.
Melihatnya, orang pasti akan bernafsu dan berhasrat untuk memilikinya. Dari cahaya redup, kulitnya terlihat gelap dan terasa halus, badannya sedikit kenyal dan bodinya tak kalah indah dengan barang lokal. Didengar dari namanya, orang akan berasumsi bahwa ia bukan berasal dari jawa. “Yokomato”,  kita memanggilnya, yang kata banyak orang berasal dari Taiwan dan baru beberapa hari di Jogja. Dia hadir disaat kejenuhan menghampiri kita akibat semakin bising dan ramainya kota Jogja. Saat itu, pelindung yang dikenakan berwarna biru dengan beberapa patah kata tulisan berwarna hitam- putih. Ia tidak sendirian, banyak teman bersamanya mulai dari ukuran sampai usia pemakai-nya. Hanya dengan mengeluarkan beberapa rupiah saja, orang akan mendapatkan kepuasan servis saat “menaikinya”.
Kita bukan berperan sebagai penikmat tapi lebih kepada penyedia layanan jasa, tepatnya sebagai penghubung. Untuk mendapatkan “Yokomato”, orang bisa hanya menekan beberapa digit nomor telepon, transaksi dan Yokomato akan kita antar. Tapi kebanyakan kita yang datang dan menawarkan.
Dalam melakukan aktifitas menjajakan Yokomato kepada lelaki hidung belang, di seluruh Jogja, kita terbagi menjadi dua tim. Ini adalah strategi pemasaran biar lebih efektif dan efisien. Kita memulai dari ujung selatan – timur Jogja, jika ditelusuri ke arah utara akan sampai ke peninggalan candi bersejarah Prambanan. Perjalannya kita mulai daerah jl. Wonosari Piyungan. Seterusnya, kita sampai di sekitar stadium kebanggaan warga Sleman, tepatnya di selatan stadiun Maguwoharja. Dalam perjalanan, sesekali kita berhenti untuk sekedar menghabiskan sebatang rokok. Satu hari bersama Yokomato saat itu sangatlah menyenangkan, sepanjang perjalanan kami puas hanya sekedar meliriknya. Ada satu Yokomato seakan mengundang untuk selalu inggin diperhatikan, kehadirannya yang selalu mengikuti kemanapun kita pergi menjadi medan magnet yang daya tariknya begitu kuat, terlebih pada penampilan yang dia hadirkan. Asumsi itu tidak tepat, dari gelegat gayanya, seakan dia sudah berkeinginan untuk segera pindah tangan, tidak bersama kita lagi. Mengikuti jejak temannya yang lain, yang sudah laku dan pindah ke tangan laki-laki hidung belang.
Melihat peluang bisnis yang menjanjikan, kita pun buka perkantoran kecil sebagai tempat koordinasi dan tukar informasi. Bukan sewa atau beli lahan untuk kantor, tapi dengan menyulap sebuah sudut ruangan kecil tempat kami tinggal. Tepatnya di daerah Pugeran, Maguwoharjo. Didalam rumah yang berwarna hijau itu, Yokomato berjejer manis dan berbaris rapi disamping sofa berwarna merah. Kalaupun ada coustamer yang datang dan duduk di sofa, mereka akan mendapatkan dua pemandangan yang menarik. Selain Yokomato, disampingnya juga dapat menikmati film atau sinetron yang menegangkan dari sebuah kotak kecil ukuran 14 inci. Ya, sebuah televisi buatan pabrikan Cina. Selain mendapatkan dua kenikmatan tadi, coustomer akan mendapatkan fasilitas tambahan dengan request lagu yang berasal dari salah satu kamar. Bebas, semua lagu ada, mulai dari dangdut sampai rock, mulai dari kroncong sampai RnB bahkan untuk mereka yang suka menikmati lagu relegi juga tersedia.   
Harga yang kita tawarkan untuk satu Yokomato tidaklah mahal, lebih murah dibanding dengan barang lokal. Penghasilan yang kita dapatkan pun tidaklah banyak, hanya beberapa persen dari uang hasil menjajakan Yokomato. Selebihnya diserahkan kepada seorang kolega, orang yang mendatangkan Yokomato ke Jogja, yang jaraknya hanya beberapa kilometer ke arah selatan dari tempat kita tinggal. Mr. D namanya. 
Inilah sebuah kenangan kebersamaan kita bersama Yokomato. Sebuah merek dagang, tepatnya merek “ban dalam sepeda montor” yang pernah kita pasarkan, meskipun hanya beberapa hari saja. Kita datangi satu toko ke toko lain menawarkan Yokomato layaknya seorang sales. Kebanyakan para pembeli Yokomato, kita menyebutnya “laki-laki hidung belang”. Mereka bukan seorang playboy atau para penikmat kepuasan para perempuan. Mereka kebanyakan masyarakat yang berprofesi sebagai tukang tambal ban dan montir bengkel –kebanyakan saat kami menjumpainya, wajahnya terdapat belang akibat terkena oli bekas--. Kondisi inilah kenapa kita menyebutnya mereka sebagai laki-laki hidung belang.
Aktifitas ini, berawal dari rasa “iseng” yang pada akhirnya tidak sedikit pengalaman serta ilmu yang kita dapatkan. Sebuah tantangan dalam mempraktekkan ilmu marketing, yang slama ini tidak pernah kita dapatkan di bangku kuliah. Kenangan itu sampai sekarang tak dapat terlupakan kawan…!!!. Ketika ingat “Yokomato” akan ingat pula Indra, Ismail, Abas, Iip, Kang Muis dan Dido. Ha….ha…., tawa pun tak terhindarkan, meskipun tak bersama kalian. Semoga kebahagiaan dan kesuksesan selalu menyertai kita semua. Amin. Man Jadda WaJadda…!!!

Chairullizza
Pati, 26 Sepetember 2010

Senin, 17 Oktober 2011

Ketika Manusia Berusaha Menjadi "Tuhan"


Malam ini cuaca terasa dingin disertai dengan gerimis kecil. Bulan pun enggan untuk menampakkan diri, ia lebih memilih bersembunyi dibalik mendung. Aku berada di rumah teman perempuan desa sebelah, dua km ke arah utara dari desa tempat aku tinggal. Usianya lebih muda enam tahun dibawahku, tepat pada malam ini umurnya memasuki 20 tahun. Dia adalah mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jogja, yang baru aku kenal beberapa bulan dari jejaring pertemanan FB. Secangkir teh panas dan kue kering yang masih terbungkus plastik, menjadikan suasana malam ini lebih sedikit hangat. Sesekali kuhisap rokok buatan pabrikan kota Kudus di jepitan diantara jari kiriku, sekedar untuk menghilangkan rasa grogi. Dari celah pintu, kulihat jarum jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam. Tak lama kemudian, dari arah pukul sembilan dari teras tempat aku duduk, datang dua mobil berplat nomor ”H” warna hitam menuju ke rumah sebelah. Ada beberapa orang yang keluar dari mobil, jumlahnya delapan orang dan tak satupun kulihat ada anak kecil. Kedua orang tua temenku juga ikut keluar rumah menuju rumah tersebut yang jaraknya hanya beberapa meter. Belakangan aku ketahui, rumah itu adalah milik nenek temen perempuanku, yang sekarang lagi berbaring sakit di Rumah Sakit.
Ekspresi wajah temen perempuanku berubah seketika, terlihat gelisah dan pucat layu. “Mereka yang datang adalah paman dan bibiku dari Semarang. Malam ini ada pertemuan keluarga untuk mencari jalan keluar bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri perderitaan nenek, mempermudah kematian nenek karena kasihan kalau melihatnya. Kami semua sangat sayang padanya, jalan ini mungkin yang terbaik buat nenek. Nenekku itu orang jawa kuno, kata ibu, nenek memiliki ilmu kesaktian kejawen. Kondisinya sekarang sangat memprihatinkan, sudah lama tak sadarkan diri di ICU. Sakitnya banyak, komplikasi…..” katanya. Bola mata indahnya berkaca-kaca, sesekali tetesan air matanya keluar menelusuri lekukan pipi sebelah kanan. Tak banyak yang aku bisa lakukan, aku hanya bisa terdiam, mendengarkan dan berusaha merasakan kesedihan yang seharusnya hari ini menjadi hari bahagia merayakan ulang tahun-Nya. Sikap pasif yang jarang aku alami.
Memang, tidak sedikit orang jawa kuno yang memiliki ilmu kesaktian (masyarakat lokal menyebutnya gembolan) - kata banyak orang -- orang ini sulit meninggal jika ilmu kesaktian dalam tubuhnya belum sepenuhnya hilang, meskipun dalam kondisi sakit parah. Seperti yang dialami oleh salah satu kerabat kakekku beberapa tahun silam. “Mbah Kie” panggilannya. Seorang perempuan jawa yang rumahnya sekitar enam km ke arah selatan dari desaku. Dari cerita anak dan keponakannya, beliau memiliki banyak ilmu kesaktian sejak masa mudanya. Ketika aku tanya salah satu-Nya, mereka enggan memberitahuku, seakan menjadi sesuatu yang pantas untuk dirahasiakan. Saat itu kondisi sang nenek menghadapi “sakratul maut”, berbaring lemah di balai jati. Atas saran dari seseorang, keluarga diminta mendatangi “orang pintar” meminta sesuatu untuk menghilangkan ilmu kesaktian sang nenek, biar diberi kemudahan waktu meninggalnya. Orang pintar yang didatangi itu –dari pengamatanku lebih mendekati sosok “kiai” dan didepan rumahnya terdapat bangunan masjid-- memberikan selembar kertas dengan beberapa tulisan yang lebih mendekati tulisan arab. Atas saran orang pintar tadi, tulisan itu dibaca di dekat sang nenek. Dan tak lama kemudian, sang nenek dengan tenang meninggal dunia. Bagaimana bisa? tanyaku dalam hati. Tapi inilah yang dipercayai mereka, sesuatu yang sulit untuk aku mengerti. Wallahu A’lam
Berbeda dengan cara “orang pintar” tadi, dalam dunia kedokteran, mengakhiri hidup seseorang dengan cara yang mudah tanpa rasa sakit dikenal dengan istilah euthanasia, sering disebut juga dengan mercy killing, a good death, atau enjoy death (mati dengan tenang). Bagi mereka yang setuju menganggap bahwa euthanasia merupakan pilihan terbaik yang sangat manusiawi, sementara yang tidak setuju menganggapnya tindakan yang tidak manusiawi yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, etika dan agama. Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan, maka mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian, namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya, euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan, maka menurut pengertian umum sekarang ini, euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang.
Dari beberapa literatur yang pernah aku baca, euthanasia ini bisa ditinjau dari berbagai aspek seperti cara pelaksanaanya, dari mana datang permintaan, sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Pertama, Euthanasia aktif. Adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dilakukan secara medis. Biasanya dilakukan dengan penggunaan obat-obatan yang bekerja cepat dan mematikan seperti memberi tablet sianida atau suntikan zat yang segera mematikan, selain itu juga bisa dengan mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya. Kedua, Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia, sehingga pasien diperkirakan akan meninggal setelah tindakan pertolongan dihentikan. Ketiga, Euthanasia jenis ini adalah Penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan sendiri. Keempat, Euthanasia involunter adalah jenis euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar yang tidak mungkin untuk menyampaikan keinginannya. Dalam hal ini dianggap famili pasien yang bertanggung jawab atas penghentian bantuan pengobatan. Perbuatan ini sulit dibedakan dengan perbuatan kriminal.
Dalam kode etik kedokteran Indonesia telah dikatakan bahwa "Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani". Dengan kata lain, dokter tidak boleh bertindak sebagai Tuhan (don’t play god). Medical ethics must be pro life, not pro death. Dokter adalah orang yang menyelamatkan atau memelihara kehidupan, bukan orang yang menentukan kehidupan itu sendiri (life savers, not life judgers). Bila dirasakan penyakit pasien sudah tidak dapat disembuhkan kembali, maka lebih baik dokter membiarkan pasien meninggal dengan sendirinya. Tidak perlu mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, perawatan (pengobatan) seperlunya masih tetap dilakukan. Asalkan jangan mengada-ada melakukan tindakan medis (yang sebetulnya tindakan itu sudah tidak diperlukan lagi), apalagi dengan motif-motif tertentu, misalnya mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan orang lain.
Untuk temen perempuanku, hidup matinya seseorang ada ditangan Tuhan. Semoga Tuhan memberi kesembuhan kepada sang nenek. Amin…!! Happy Birthday…….

Chairullizza
Pati, 28 September 2010

Sang Bidadari Surga?

foto : kuswanto
Seperti biasa, setelah lelah beraktifitas seharian, melihat Indonesia dari layar televisi menjadi hiburan tersendiri. Dari channel televisi ke channel yang lain, tayangannya hampir sama, menunjukkan kegagahan aparat kepolisian dalam melumpuhkan mereka yang diduga “teroris”. Bahkan salah seorang ber-topi dengan pistol ditangan --menurutku intel kepolisian-- mengatakan telah menembak mati “sang teroris” tepat dikepala. Beberapa pengamat di televisi berpendapat bahwa pola aksi yang dilakukan para “teroris” ini berbeda dengan sebelumnya, yang melakukan aksi teror dengan bom bunuh diri. Meraka yang dilumpuhkan adalah para teroris yang mempersenjatai diri dengan berbagai senapan dan pistol otomatis. Selain itu, polisi juga menjadi salah satu target yang mereka bidik. Belakangan, dari kedua belah pihak didapati jatuh banyak korban. Seakan-akan beberapa kejadian pertarungan antara “polisi versus teroris” menunjukkan aksi saling balas.
Melihat tayangan berita tersebut, mengingatkanku pada pengakuaan salah satu pelaku aksi pengeboman di ibu kota. Mereka menyebutnya “Jihad”. Disisi yang lain, banyak pihak yang menyebut sebagai aksi teror yang sangat keji. Mereka rela mati dengan bayangan akan mendapatkan imbalan penuh kenikmatan di surga. Salah satunya adalah hadirnya bidadari-bidadari cantik surga. Tentunya, sebuah harga yang pantas untuk mereka dapatkan, rela mati hanya untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini sebuah kebenaran. Pertanyaannya, bayangan bidadari seperti apa yang akan mereka dapatkan? Mungkinkah para penafsir kurang tepat dalam menafsirankan ayat-ayat Tuhan? 
Memang, dalam al-Qur’an banyak sekali kita jumpai ayat-ayat yang menghubungkan antara jihad dengan pahala yang besar di sisi Allah, dan dalam konteks “refressing”, Allah menjanjikan iming-iming dengan surga beserta gambaran-gambaran yang menyejukkan, seperti gunung atau bukit yang menghijau, mengalir di bawahnya sungai-sungai, baik air, madu dan susu; dan tidak ketinggalan di tengah taman yang indah itu terdapat bidadari-bidadari yang sangat cantik yang selalu siap melayani. Semua itu bermuara pada kesejukan, kelezatan, kenikmatan, dan kepuasan. Dan deskripsi bidadari yang ada dalam benak umum masyarakat Islam adalah bermuara pada pengertian wanita cantik dan shalihat secara fisik.
Penyebutan “bidadari” dalam al-Quran memakai konsep kunci “h}ūr un ‘īn”, dan secara umum diberi makna sebagai “bidadari”. Oleh para ulama, umumnya ia dipahami sebagai sesosok wanita yang sangat cantik jelita, seperti yang digambarkan juga oleh ulama Indonesia, A. Mudjab Mahalli dalam bukunya Muslimah dan Bidadari. Bayangan akan “sosok cantik” tersebut tentunya relatif dalam penggambaran masing-masing ulama. Tentu saja model “membayangkan” ini, menjadi agak kontroversial jika dihadapkan dengan konsep teologis bahwa surga –bidadari menjadi salah satu elemen penting di dalamnya- tidak bisa dibayangkan.
Untuk sebuah surga yang kontroversial ini telah membuat mereka berani mati melakukan aksi bom bunuh diri dan semacamnya. Sebuah aksi yang memakan banyak korban nyawa, menjadikan anak yatim-piatu dan meninggalkan cacat fisik seumur hidup bagi para korban. Tentunya, apa yang mereka lakukan telah menjadikan banyak orang mengalami tauma berkepanjangan. Lebih parahnya, teror yang mereka lakukan bersembunyi atas nama agama.
Untuk mereka yang rela mati bunuh diri melakukan serangkaian aksi “teror”, yang menurutnya “Jihad” demi sebuah kenikmatan surga dan bidadari-bidadari cantik surga. Sudahkah mendapatkan-Nya?
Chairulizza

Belajar “Politik Cinta” dari Mahatma Gandhi


Penjajahan di seluruh dunia harus segera di hapuskan. Ya, seperti yang dialami India, selama bertahun-tahun telah mengalami penjajahan bangsa Inggris dan telah mengakibatkan penderitaan rakyat India dalam segala bidang kehidupan. Berbagai bentuk ketidakadilan, penindasan dan diskriminasi telah diterima oleh rakyat India yang tidak berhak atas harkat, kebebasan dan perlindungan hukum. Dengan merujuk kenyataan ini, konon Mahatma Gandhi merespon fenomena masyarakat tersebut dengan ajarannya tentang ahimsa. Sebuah semangat untuk memperbaiki kondisi rakyat India, sekaligus untuk memerdekakan India dari penjajahan bangsa Inggris melalui jalan tanpa kekerasan. Dengan ajarannya tersebut, ia menawarkan solusi menyeluruh pada penyadaran manusia untuk lebih mengenal dirinya, karena menurutnya dalam ahimsa tercakup toleransi, kesabaran, rendah hati dan cinta akan kebenaran.
Ahimsa berarti kesadaran besar bahwa semua yang hidup barulah mencapai arti setinggi-tingginya apabila di dalam cinta. Dendam, kejahatan dan kekejaman tidak lain adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum alam asli. Pasrah terhadap perasaan-perasaan ini berarti memalingkan diri dari tata tertib ketuhanan. Ahimsa menuntut untuk melimpahkan kebaikan dan keridlaan kepada setiap mahluk yang hidup, dengan tenang membiarkan tiap-tiap kejahatan dan membalas kedzaliman dengan cinta. Gandhi menuntut kepada setiap orang untuk mengasihi setiap mahluk yang hidup. Secara negatif ahimsa diartikan sebagai suatu penghindaran untuk melukai atau membunuh apa pun yang ada di atas bumi, baik dalam perkataan, pikiran maupun perbuatan. Dengan kata lain bahwa ahimsa bukan berarti tidak melukai apa pun yang hidup, sebuah status yang pasif; bukan hanya sekedar untuk memaafkan kejahatan atau melawan kejahatan, berbuat baik kepada semua ciptaan yang hidup, tidak tanpa kekerasan atau tanpa  perlawanan, melainkan ahimsa merupakan suatu ekspresi hati manusia. Secara positif ahimsa berarti cinta yang paling agung, bahkan mencintai para pelaku kejahatan. 
Konsep Ahimsa Gandhi ini ditujukan kepada mereka yang mempunyai keteguhan jiwa, bukan kepada mereka yang lemah dan suka kompromi. Hanya mereka yang mampu mengalahkan ketakutanlah yang sungguh-sungguh dapat memiliki ahimsa, sehingga benar-benar ia menjadi orang yang seluruh hidupnya hanya mau berpegang pada kebenaran atau Satyagraha. Satyagraha merupakan usaha mempertahankan kebenaran bukan dengan hukuman terhadap diri sendiri. Satyagraha menghendaki mawas diri karena lawan harus disadarkan dari kesalahannya dengan kesadaran dan simpati. Satyagraha lebih dari sekedar perlawanan pasif karena menghendaki hubungan yang positif yang terus menerus di antara lawan dengan satu pandangan menuju perdamaian yang sesungguhnya. Aturan satyagraha harus dimulai dengan kesabaran, gagasannya adalah mempermalukan lawan bukan dengan cara membalas, memukul, namun dengan cara meluluhkan hatinya.
Gandhi terinspirasi oleh pencarian tiada henti terhadap kesempurnaan dan universalitas cinta. The Kingdom of God is Within You, karya Tolstoy menguraikan bahwa seluruh pemerintahan didasarkan pada perang dan kekerasan, dan seseorang bisa menandingi kejahatan-kejahatan ini hanya melalui perlawanan pasif (resistance passive). Gagasan ini menimbulkan kesan yang sangat mendalam dalam kehidupan Gandhi. Dengan The Kingdom of God is Within You ini Gandhi mendapat dukungan yang meyakinkan atas kepercayaan pada kebenaran dan tanpa perlawanan, dia juga mendapatkan suatu ungkapan dinamis tentang keindahan dan kebesaran penderitaan. Penderitaan tidak selalu bersifat dan bernilai negatif, dengan penderitaan manusia akan terangkat ke taraf keutamaan yang lebih tinggi. Tolstoy menunjukkan bahwa melalui penderitaan, manusia bisa membebaskan diri dan menetralisir kekuatan-kekuatan jahat yang ada pada dirinya.
Buku lain yang sangat berpengaruh bagi Gandhi bagaimana secara praksis melaksanakan ahimsa dan satyagraha adalah Civil Disobedience karya Henri David Thoreau. Buku ini membuka mata Gandhi bagaimana ahimsa dapat digunakan dalam menghadapi persoalan-persoalan politik. Ia juga terkesan oleh kenyataan bahwa manusia tidak pernah dapat dimasukkan dalam penjara, sebab tidak  ada satu instansi pun yang mampu manahan kehendak seseorang. Thoreau yakin bahwa kebenaranlah yang akan menang.
Gandhi telah membuktikan kepada dunia, bahwa rakyat India mampu mencapai kemerdekaan dari imperialisme Inggris melalui jalan ahimsa. Sebagai penganut Hindu, Gandhi mengambil term-term agama Hindu dalam hal ini ahimsa sebagai alat untuk melakukan perlawanan terhadap imperialisme Inggris. Digunakannya ahimsa sebagai asas dan teknik dalam tindakan politisnya, menjadikan ia berpengaruh. Tindakan politik Gandhi adalah tindakan spiritual sekaligus untuk memenuhi dharma Hindu. Tindakannya mempunyai arti, pertama sebagai tindakan pemujaan religius, kedua sebagai tindakan simbolis dan pendidikan bagi rakyat India untuk merealisasikan kebutuhan-kebutuhan, dan ahirnya tindakan-tindakan tersebut mempunyai makna universal sebagai manifestasi dari kebenaran yang mendesak, pembukaan kedok kepalsuan politik. Cara tanpa kekerasan (cinta) ala ahimsa Mahatma Gandhi ini tujuannya adalah mengubah, bukan memaksa seseorang supaya takluk. Maka cara ahimsa merupakan jaminan satu-satunya untuk mencapai kehidupan demokrasi yang sesungguhnya. Chairullizza
Pati, 24 Sepetember 2010

CATATAN RULLY